Halaman

Selasa, 24 April 2018

Cara Membuat Widget Tabview 3 Kolom Disidebar

Cara Membuat Widget Tabview 3 Kolom Disidebar

Widget tabview berfungsi untuk menghemat ruang dalam menempatkan widget di halaman blog.
Bagi kalian yang ingin menambahkan banyak widget di halaman blog, cara ini sangat cocok untuk di pakai karena widget tabview bisa menempatkan beberapa widget dalam satu widget.

Dalam postingan ini, saya akan share cara pembuatan widget tabview dengan 3 kolom.
Jadi seandainya kalian ingin menempatkan widget Fanspage, Popular Pos dan Artikel terkait, bisa di tempatkan dalam satu widget tabview ini.

Untuk penempatan widget tabview, tidak terbatas di sidebar saja tetapi bisa juga di footer.
Lihat contoh widget tabview di blog ini, di sidebar kanan atas dengan judul Hukum Dan Dalil, Fanspage dan Adab Dan Etika.

Oke guys, langsung saja simak tutorialnya di bawah ini:

Masuk ke Blog.
Pilih Tata Letak >> Tambah Gadget
Pilih HTML/Javascript
Pada kolom konfigurasi HTML/Javascript
Pastekan kode script di bawah ini:

<style type="text/css">
    div.TabView div.Tabs
    {height: 30px;overflow: hidden}
    div.TabView div.Tabs a {float:left; display:block; width: 95px; /* Lebar Menu Utama Atas */
    text-align:center ; height: 30px; /* Tinggi Menu Utama Atas */
    padding-top:8px; vertical-align:middle; border:1px solid #BDBDBD; /* Warna border Menu Atas */
    border-bottom-width:0; text-decoration: none; font-family: "Courier", Serif; /* Font Menu Utama Atas */
    font-weight:bold; color:#000; /* Warna Font Menu Utama Atas */ -moz-border-radius-topleft:10px; -moz-border-radius-topright:10px}
    div.TabView div.Tabs a:hover, div.TabView div.Tabs a.Active {background-color: #FFFFFF; /* Warna background Menu Utama Atas */ }
    div.TabView div.Pages {clear:both; border:1px solid #0099CC; /* Warna border Kotak Utama */ overflow:hidden; background-color:#E6E6E6; /* Warna background Kotak Utama */ }
    div.TabView div.Pages div.Page {height:100%; padding:0px; overflow:hidden}
    div.TabView div.Pages div.Page div.Pad {padding: 5px 5px}
    </style>
    <script type='text/javascript'>
    //<![CDATA[
    function tabview_aux(TabViewId, id)
    {
      var TabView = document.getElementById(TabViewId);
      // ----- Tabs -----
      var Tabs = TabView.firstChild;
      while (Tabs.className != "Tabs" ) Tabs = Tabs.nextSibling;
      var Tab = Tabs.firstChild;
      var i   = 0;
      do
      {
        if (Tab.tagName == "A")
        {
          i++;
          Tab.href      = "javascript:tabview_switch('"+TabViewId+"', "+i+");";
          Tab.className = (i == id) ? "Active" : "";
          Tab.blur();
        }
      }
      while (Tab = Tab.nextSibling);
      // ----- Pages -----
      var Pages = TabView.firstChild;
      while (Pages.className != 'Pages') Pages = Pages.nextSibling;
      var Page = Pages.firstChild;
      var i    = 0;
      do
      {
        if (Page.className == 'Page')
        {
          i++;
          if (Pages.offsetHeight) Page.style.height = (Pages.offsetHeight-2)+"px";
          Page.style.overflow = "auto";
          Page.style.display  = (i == id) ? 'block' : 'none';
        }
      }
      while (Page = Page.nextSibling);
    }
    // ----- Functions -------------------------------------------------------------
    function tabview_switch(TabViewId, id) { tabview_aux(TabViewId, id); }
    function tabview_initialize(TabViewId) { tabview_aux(TabViewId,  1); }
    //]]>
    </script>
    <form action="tabview.html" method="get">
    <div id="TabView" class="TabView">
    <div style="width: 350px;" class="Tabs">
    <a>Kategori</a>
    <a>Recent Comment</a>
    <a>Arsip</a>
    </div>
    <div style="width:350px; height:250px; " class="Pages">
    <div class="Page">
    <div class="Pad">

Menu
script anda

    </div>
    </div>
    <div class="Page">
    <div class="Pad">

Menu1

script anda

    </div>
    </div>
    <div class="Page">
    <div class="Pad">


Menu2

script anda

    </div>
    </div>
    </div>
    </div>
    </form>
    <script type="text/javascript">
    tabview_initialize('TabView');
    </script>


Keterangan:
  • Ganti tulisan  warna merah untuk menyesuaikan lebar dan tinggi widget.
  • Ganti tulisan warna biru untuk judul kolom tabview.
  • Ganti tulisan warna hitam tebal dengan kategori/kode script/tulisan yang hendak di tampilkan di widget tabview
Langkah terakhir pilih Simpan.

Minggu, 15 April 2018

Manfaat Dan Fungsi Shalat Subuh

Sholat subuh memiliki banyak manfaat dan fungsi. Sayangnya banyak umat muslim yang melalaikan manfaat tersebut sehingga sering meninggalkan shalat subuh atau menjalankan shalat subuh di saat yang tidak tepat misalnya saja saat matahari sudah muncul di ufuk timur.
Tidak hanya itu saja, banyak orang yang memilih untuk shalat subuh di rumah dibandingkan dengan sholat subuh berjamaah di masjid. Padahal keutamaan sholat subuh dan sholat isya adalah dilakukan di masjid. Berikut ini adalah manfaat dan fungsi sholat subuh yang harus kita ketahui :
1. Pembeda Antara Yang Mukmin Dan Yang Munafik
Sholat Subuh sangat pnting dalam penegakan agama. Ibnu Umar RA juga mengatakan seperti ini
“Ketika kami tidak melihat seseorang ketika melakukan shalat subuh atau isya secara berjamaah, kami langsung berprasangka buruk kepadanya.”
2. Untuk Kelapangkan Rezeki
Fungsi dan manfaat sholat subuh adalah sebagai pelapang rezeki. Hal tersebut diperkuat dengan nasehat orangtua yang melarang anaknya untuk bangun terlalu siang, kata orang tua jaMan dahulu jika bangun terlalu siang nanti rezeki dipatok ayam.
Memang nasehat tersebut adalah benar dan dibernakan oleh islam. Hal itu dikarenakan Allah akan membagikan rezeki bagi umat NYA antara shalat subuh sampai dengan terbitnya matahari di sebelah ufuk timur.
3. Mendapatkan Perlindungan, Penjagaan Dan Pemeliharaan
Umat msulim yang sedang melaksanakan shalat subuh akan berada di dalam perlindungan, penjagaan dan juga pemeliharan oleh Allah SWT. Hal itu berdasarkan Hadist Riswayat Muslim seperti berikut ini:
“Barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh dia telah ada dalam jaminan Allah. Maka janganlah sampai Allah kembali menarik jaminan NYA dari tubuh kalian dengan sebab apa pun. Sebab siapapun yang Allah cabut jaminan NYA darinya dengan sebab apa pun, pasti akan tercabut juga. Setlah itu Allah akan menelungkupkan mukanya ke dalam neraka Jahanam.”
4. Pahala Yang Besar
Pahala menjalankan shalat fardhu itu sangat besar dan adzab orang yang meninggalkan shalat fardhu sangat pedih. Pahala bagi orang yang melaksanakan shalat subuh tertama yang berjamaah akan setara dengan shalat malam semalam suntuk.
Sesuai dengan HR.Muslim seperti berikut ini:
“Barangsiapa yang melakukan shalat isya secara berjamaah maka dia seperti melakukan shalat malam separuh malam. Dan barangsiapa yang melakukan shalat subuh secara berjmaah maka dia akan menadapatkan pahala setara dengan shalat malam semalam penuh atau semalam suntuk.”
5. Terjauhkan Dari Api Neraka
Orang yang rajin melakukan shalat subuh berjamaah di masjid akan dihindarkan dari siksaan api neraka. Seperti sabda Rasulullah dalam hadistnya seperti berikut ini:
“Tidak akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat subuh sebelum matahari terbit dan sebelum matahari tenggelam.” ( HR. Muslim )
6. Subuh Adalah Kunci Kemenangan
Orang yang rajin melaksanakan shalat subuh secara berjamaah bisa mendapatkan kunci kemenangan. Seperti sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari seperti ini:
“Bahwa Rasulullah apabila hendak menyerbu suatu kaum, beliau akan menundanya sampai tiba waktunya subuh.”
7. Standar Nilai Sebuah Umat
Sholat subuh juga dijadikan sebagai standar nilai bagi sebuah umat yang ada di bumi ini. Umat yang lalai untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah merupakan umat yang tidak berhak untuk memiliki kejayaan namun berhak untuk digantikan dengan umat yang lain. Umat yang menjaga shalat subuhnya secara berjamaah merupakan umat yang berhak untuk berdiri kokoh dan tegak di atas muka bumi ini.
Jika umat islam tidak menjaga shalat subuhnya, umat islam akan kehilangan kewibawaan, kehilangan kemuliaan, kehilangan kehormatan dan juga kejayaan.
Penyebab Susah Bangun Untuk Melakukan Shalat Subuh
Bagi orang muslim yang susah untuk melaksanakan shalat subuh ada baiknya mengetahui apa yang menjadi penyebab susah untuk bangun shalat subuh. Berikut ini ada beberapa penyebab yang menjadi penyebab untuk sulit bangun ketika shalat subuh tiba:
1. Makanan Haram
Penyebab yang pertama adalah karena memakan makanan yang haram.Hal tersebut disabdakan oleh Rasulullah seperti ini:
“Ibadah yang dilakukan dengan memakan makanan yang haram sama saja dengan mendirikan bangunan yang ada di atas pasir.”
Ibadah yang dilakukan pun akan terasa berat jika terlalu banyak makanan haram di dalam tubuhnya.
2. Tidak Melakukan Shalat Malam
Penyebab yang kedua susah untuk bangun sholat subuh adalah dia tidak melakukan shalat malam. Hal itu dikatenakan shalat tahajud bisa menjadikan umat muslim memastikan shalat subuh bisa ada di tangan. Hal tersebut biasanya karena setan akan membisikkan di telinga manusia seperti ini: “malam masih panjang, tidurlah” ketika umat muslim akan bangun untuk sholat subuh, sesuai dengan HR. Bukhari nomor 1142 dan HR. Muslim Nomor 776 yang berbunyi:
“setan akan membuat tiga ikatan di bagian tengkuk (leher bagian belakang) pada tubuh salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatannya setan akan mengatakan, “malam masih panjang, tidurlah!”.
Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.”
3. Bergadang
Penyebab yang ketiga adalah karena suka bergadang.  Bergadang bisa membuat tubuh seseorang mengantuk ketika pagi hari. Bergadang merupakan hal yang dibenci oleh Rasulullah seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari seperti ini “Rasulullah SAW membenci tidur sebelum shalat isya dan ngobrol-ngobrol setelah sholat isya.”
4. Kebiasaan
Kebiasaan akan sulit untuk diubah dan menyebabkan orang akan sering tidur di pagi hari karena memang kebiasaannya seperti itu. Kebiasaan tersebut adalah sehabis shalat subuh dia kemudian menghampiri kasurnya, menarik seimutnya kembali dan mengambil bantalnya. Dia tidur pulas hingga matahari mulai meninggi setelah itu dia akan melakukan aktivitasnya setiap hari yaitu kerja ataupun kuliah.
Kebiasaan orang seperti ini akan menghilangkan keberkahan yang seharusnya ada di dalam dirinya. Untuk mengatasi kebiasaan tersebut adalah dengan menghilangkan kebiasaan tersebut disertai dengan permintaan tolong kepada Allah SWT. Sesuai dengan firma Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 69 yang artinya:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam jalan Kami, maka sungguh akan Kami tunjukkan mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama dengan orang-orang yang berbuat baik.”
Demikian Manfaat Dan Fungsi Sholat Subuh Semoga kita memahami Islam dengan baik dan mampu mengamalkannya. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Jumat, 13 April 2018

Panduan Sholat Fardhu

Shalat adalah tiang agama dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang baligh dan berakal, kecuali bagi wanita yang sedang haid dan nifas. Adapun kewajiban menunaikan ibadah shalat yaitu berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Dalam islam, shalat memiliki kedudukan yang sangat agung. Maka, sungguh berdosa dan sangat merugi bagi mereka yang meninggalkan kewajiban shalat, dan kafirlah orang yang menentang kewajiban shalat.
Selain menjadi tiang agama, shalat juga merupakan satu amalan manusia yang paling pertama dihisab (di hari kiamat) serta menjadi standar baik dan buruknya amalan yang lain. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, sedangkan jika shalatnya buruk, maka buruklah seluruh amalnya.
Dalam sehari semalam, ada 5 (lima) waktu shalat yang diwajibkan bagi kaum muslim. shalat 5 waktu tersebut adalah sebagai berikut :
1. Shalat Dzuhur
2. Shalat Ashar
3. Shalat Maghrib
4. Shalat Isya
5. Shalat Subuh
Shalat Zhuhur: Jumlah Rakaat & Bacaan Niat Shalat Dzuhur
Shalat dzhuhur adalah shalat yang dilaksanakan pada saat tergelincirnya matahari. Adapun jumlah rakaat shalat zhuhur adalah 4 (empat) rakaat, dengan memelankan bacaannya dan dengan duduk tasyahhud dua kali duduk tasyahhud. Dan berikut adalah bacaan niat shalat dzuhur 4 rakaat bahasa arab, latin dan artinya lengkap.
USHOLLII FARDHODL DHUHRI ARBA’A RAKA’AATIM MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN LILLAAHI TA’AALA.
Artinya :
Aku berniat shalat fardu Dhuhur empat raka’at menghadap kiblat karena Allah Ta’ala
Shalat Ashar : Jumlah Rakaat & Bacaan Niat Shalat ‘Ashar
Jumlah rakaat shalat asyar sama seperti shalat dzuhur yakni 4 (empat) rakaat, dengan memelankan bacaannya dan dengan duduk tasyahhud dua kali duduk tasyahhud. Berikut adalah lafadz niat shalat asyar 4 rakaat dalam bahasa arab, latin lengkap artinya:
USHOLLII FARDHOL ‘ASHRI ARBA’A RAKA’AATIM MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN LILLAAHI TA’AALA.
Artinya :
Aku berniat shalat fardu ‘Ashar empat raka’at menghadap kiblat karena Allah Ta’ala
Shalat Maghrib: Jumlah Raka’at & Bacaan Niat Shalat Maghrib
Ada 3 (tiga) raka’at dalam shalat maghrib, dengan mengeraskan bacaannya pada dua raka’at yang pertama dan memelankan bacaannya pada raka’at ke tiga atau raka’at terakhir, serta duduk tasyahud pada raka’at yang kedua dan ketiga. Dan berikut adalah lafadz niat shalat maghrib lengkap bahasa arab, latin dan artinya:
USHOLLII FARDHOL MAGHRIBI TSALAATSA RAKA’AATIM MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN LILLAAHI TA’AALA.
Artinya :
Aku berniat shalat fardu Maghrib tiga raka’at menghadap kiblat karena Allah Ta’ala
Shalat Isya: Jumlah Raka’at & Bacaan Niat Shalat ‘Isya
Sama seperti shalat dzuhur dan asyar, yakni jumlah raka’atnya ada 4 namun berbeda bacaannya. Jika dalam shalat dzuhur dan asyar memelankan bacaannya, maka pada shalat isya harus mengeraskan bacaannya pada kedua raka’at yang pertama dan memelankan bacaannya pada kedua raka’at yang lain (dua raka’at terakhir), serta duduk tasyahud dua kali disetiap dua rakaat. Untuk bacaan niat shalat isya 4 raka’at adalah sebagai berikut lengkap dengan lafadz bahasa arab, latin dan artinya:
USHOLLII FARDHOL ‘ISYAA’I ARBA’A RAKA’AATIM MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN LILLAAHI TA’AALA.
Artinya :
Aku berniat shalat fardu ‘Isya empat raka’at menghadap kiblat karena Allah Ta’ala
Shalat Subuh: Jumlah Raka’at &Bacaan Niat Shalat Shubuh
Shalat subuh merupakan shalat yang jumlah raka’atnya paling sedikit yaitu hanya ada 2 (dua) raka’at dalam shalat subuh dengan mengeraskan bacaannya dikedua raka’at tersebut dan duduk tasyahhud satu kali pada raka’at terakhir. Adapun niat shalat shubuh arab, latin dan artinyaadalah sebagai berikut:
USHOLLII FARDHOSH SHUBHI ROK’ATAINI MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN LILLAAHI TA’AALA.
Artinya :
Aku berniat shalat fardu Shubuh dua raka’at menghadap kiblat karena Allah Ta’ala
Catatan Penting:
Bacaan Niat Sholat Wajib 5 Waktu di atas adalah khusus bagi yang melaksanakan sholat sendirian. Dan apabila Anda melaksanakan sholatnya berjamaah, maka lafadz bacaannya berbeda, tergantung apakah Anda menjadi makmum atau imam. Silakan perhatikan contoh berikut.
Bacaan Niat Sholat Fardhu Berjamaah Sebagai Makmum
Ketika Ana sholat berjama’ah sebagai ma’mum, maka bacaan lafadz niat sholatnya adalah sebagai berikut :
USHOLLII FARDHOL MAGHRIBI TSALAATSA RAKA’AATIM MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN MA’MUUMAN LILLAAHI TA’AALA.
Artinya :
Aku berniat shalat fardu Maghrib tiga raka’at menghadap kiblat sebagai ma’mum karena Allah Ta’ala
Contoh diatas saya menggunakan niat shalat maghrib. Jika Anda shalat isya berjamaah dan menjadi makmum maka tinggal sesuaikan saja, begitu juga seterusnya.
Bacaan Niat Sholat Fardhu Sebagai Imam
USHOLLII FARDHOL MAGHRIBI TSALAATSA RAKA’AATIM MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN IMAAMAN LILLAAHI TA’AALA.
Artinya :
Aku berniat shalat fardu Maghrib tiga raka’at menghadap kiblat sebagai Imam karena Allah Ta’ala
Itulah jumlah shalat wajib dan raka’at shalat wajib serta bacaan niat shalat wajib 5 waktu. Adapun untuk masuknya shalat 5 waktu, secara lengkap akan saya share pada pertemuan berikutnya. Semoga apa yang saya sajikan di sini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Panduan Rukun Islam

Rukun islam menurut bahasa arab yaitu arkan al-din atau arkan al-islam yang memeiliki arti pilar agama. Sedangkan menurut istilah rukun islam adalah suatu tindakan atau amalan yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang merupakan dasar atau pondasi dari hidupnya.

Bisa kita ibaratkan seperti bangunan ,  pondasi merupakan bagian yang harus ada dan merupakan awal dari terbentuknya bangunan. Jika suatu bangunan  tidak memiliki pondasi maka banguna tersebut tidak akan dapat berdiri.Begitupun seseorang yang mengaku islam atau yang akan masuk islam harus mengetahui dan melakukan semua rukun islam.

Ada berapakah rukun islam? Seperti yang tercantum dalam suatu hadist dari Abu abdurahman,Abdullah bin Alh khotob r.a.yang isinya  bahwa Rosululloh SAW bersabda : islam dibangun diatas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada dzat yang disembah kecuali ALLOH SWT dan bahwa nabi Muhammad adalah utusanNYA,Menegakkan sholat ,menunaikan puasa,zakat,dan haji . (HR.At-turmuzi dan Muslim)

Rukun islam  penjelasan dan dalilnya

Rukun Pertama : Syahadat

Rukun yang pertama adalah mengucapkan kalimat syahadat, yaitu:

اَشْهَدُاَنْالَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَاَثْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًا رَسٌؤلُ اللهِ

Ashyhadu allaa ilaaha illallah wa ashyhadu anna Muhammadar rasuulullah

“Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.”

Dua kalimat syahadat adalah kalimat yang sangat agung, merupakan kunci surga [HR. Muslim (149) dari Ubadah bin Shamit]. Syahadat adalah persaksian yang membedakan antara muslim dan kafir, barangsiapa mengucapkannya maka haram jiwa, harta, dan kehormatannya [‎Sebagaimana hadist Ibnu Umar, ‎Bukhari (25) dan Muslim (22)‎]. Lalu sebenarnya apa makna yang terkandung di dalam dua kalimat tersebut? Dan apa saja hal-hal penting yang berkaitan dengannya?

Bagian pertama, syahadat “Ashyhadu allaa ilaha illallah”. Maknanya adalah “Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah Ta’ala.”

Rukun syahadat yang pertama ini ada dua:

  • Nafyu ( لا اله ) yaitu penafian seluruh yang disembah kecuali Allah Ta’ala.
  • Itsbat ( إلا الله) yaitu menetapkan ibadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi Nya.

Syahadat ini memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sah saat mengucapkannya. Syarat-syaratnya ada delapan yaitu harus disertai dengan

  • ilmu
  • keyakinan
  • penerimaan
  • ketundukan
  • kejujuran
  • keikhlasan
  • kecintaan dan
  • pengingkaran terhadap seluruh sesembahan selain Allah.

Konsekuensi syahadat ini adalah tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah semata. Sungguh aneh jika ada yang mengucapkan syahadat ini dengan lisannya tetapi bersamaan dengan itu ia tetap memalingkan sebagian ibadah kepada selain Allah seperti berdo’a pada orang mati, menyembelih untuk jin dan lainnya.

Bagian kedua, syahadatwa ashyhadu anna Muhammadar rasuulullahMaknanya adalah “Sesunggunhya Muhammad adalah hamba dan utusanNya”. Jadi, dalam satu sisi beliau adalah Abdullah ( hamba Allah ) sebagaimana makhluq lainnya yang beribadah kepada Allah. Beliau adalah manusia biasa yang tidak boleh disembah atau dikultuskan seperti Allah.

Di sisi lain beliau adalah Rasulullah (utusan Allah) yang diutus kepada manusia untuk menyampaikan wahyu dari Allah. Karena beliau adalah utusan Allah maka harus kita muliakan, kita ikuti ajarannya dan kita tolong agamanya. Allah berfirman,

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya ( Tuhan ) sesembahan kalian itu adalah ( Tuhan ) sesembahan yang Maha Esa.” (QS al Kahfi: 110)

Rukun dari syahadat yang kedua ini ( Sebagaimana disebutkan Syaikh Abdul ‎Wahhab dalam Tsalatsatul Ushul ) :

  • Mentaati apa yang ia perintahkan.
  • Membenarkan yang ia kabarkan.
  • Menjauhi apa yang ia larang dan peringatkan.
  • Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang ia tuntunkan.

Rukun Kedua : Sholat

Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang paling utama setelah syahadat. Di dalam Shalat berbagai macam ibadah terkumpul seperti, dzikrullah, bacaan al qur’an, berdiri, rukuk, sujud di hadapan Allah, berdo’a padaNya, tasbih, takbir dan lainnya. Shalat merupakan induk ibadah badaniyah. Tatkala Allah hendak menurunkan syariat shalat Dia memi’rajkan RasulNya ke langit [HR Bukhari (349), Muslim (162)], hal ini berbeda dengan syariat-syariat yang lain.

Secara bahasa shalat artinya “do’a”. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

Dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu ( menjadi ) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( QS. at Taubah: 103 )

Secara istilah artinya, “Perkataan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam”. Hukum shalat adalah wajib berdasar al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ kaum muslimin. Banyak sekali ayat dalam al Qur’an yang menunjukkan akan hal tersebut. Salah satunya firman Allah ta’ala :

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. ( QS. an Nisa: 103 ).

Keutamaan sholat

Sholat adalah amalan yang pertama kali dihisab di akhirat dan ‎menjadi ukuran kebaikan amalan yang lain. Dari Abdullah bin Qarth radhiallahu anhu bahwa ‎Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‎

‎”Amal ibadah yang pertama yang akan dihisab oleh Allah pada hari kiamat adalah shalatnya, ‎jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya yang lain dan jika shalatnya rusak maka ‎rusaklah seluruh amalannya yang lain ( HR Thabrani, dishahihkan oleh syaikh Albani).

Sholat adalah pembeda antara seorang muslim dan kafir. Dari Jabir bin Abdullah ‎radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‎

‎”Di antara seseorang dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat” [HR ‎Muslim]. ‎

Karena shalat merupakan pembeda antara muslim dan kafir maka sebagian ulama’ berpendapat bahwa orang yang ‎meninggalkan shalat karena menyepelekannya atau karena malas maka dihukumi kafir. ‎Masih banyak keutamaan sholat yang lainnya diantaranya: sholat adalah mencegah dari perbuatan keji dan munkar ( QS Al-Ankabut: 45), sholat pada waktunya adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah [HR Bukhari dan Muslim].‎ Karena sholat memiliki keutamaan yang begitu besar maka marilah kita berusaha untuk selalu menjaga sholat kita. Allah ta’ala berfirman,

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa . Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (QS Al Baqarah; 238).

Sesungguhnya orang yang mendirikan sholat adalah orang yang mendirikan bagunan agama islam pada dirinya. Rasulullah bersabda,

“Pokok urusan adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad”.[ HR Tirmidzi]

Sebaliknya, jangan sampai kita menjadi orang yang melalaikan shalat sehingga tidak mendapatkan keutamaan-keutamaan shalat yang demikian besar. Sungguh merugi orang-orang yang melalaikan shalat. Allah berfirman,

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, ( yaitu ) orang-orang yang lalai dari shalatnya. ( QS Al Ma’uun: 4-5 )

Syarat, Rukun, dan hal yang wajib dalam sholat

Syarat shalat :

  • islam
  • berakal
  • mumayyis
  • mengangkat hadas
  • menghilangkan najis
  • menutup aurat
  • masuk waktu shalat
  • menghadap kiblat
  • niat

Rukun sholat :

  • berdiri jika mampu
  • takbiratul ihram
  • membaca surat al Fatihah
  • rukuk
  • bangkit dari rukuk dan I’tidal (berdiri tegak)
  • sujud
  • bangkit dari sujud dan duduk diantara dua sujud
  • tuma’ninah
  • tertib
  • tahiyat akhir
  • duduk tahiyat akhir
  • sholawat atas nabi
  • salam

Wajib sholat: ‎

  • Seluruh takbir kecuali takbiratul ihram
  • Tasmii’‎, yaitu membaca “sami’allahu liman hamidah ”. Wajib dibaca oleh imam ataupun orang yang ‎shalat sendirin, adapun makmum tidak membacanya
  • Tahmid, yaitu membaca “rabbana walakal hamd”. Wajib dibaca oleh imam, makmum, maupun orang ‎yang shalat sendirian
  • Bacaan rukuk, yaitu seperti bacaan “subhaana rabbiyal ‘adzim”. Yang wajib sekali, disunnahkan membacanya ‎tiga kali. Jika lebih maka tidak mengapa
  • Bacaan sujud, yaitu seperti bacaan “subhaana rabbiyal ‘a’la”. Yang wajib sekali, disunnahkan membacanya ‎tiga kali‎
  • Bacaan duduk antara dua sujud, yaitu seperti bacaan “rabbighfirliy”. Yang wajib sekali, disunnahkan membacanya tiga kali‎
  • Tasyahud awal
  • Duduk pada tasyahud awal

Sifat sholat Nabi

Karena pentingnya sholat maka hendaknya seorang muslim berusaha sekuat tenaga menjaganya. Yaitu berupaya shalat secara sempurna baik rukun, wajib maupun sunnah-sunnahnya. Untuk itu hendaknya berusaha untuk mencontoh sifat sholat Nabi karena beliau pernah bersabda,

Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat [HR Bukhari no. 631]

Tatacara sholat:

  1. Rasulullah jika berdiri untuk shalat maka beliau menghadap ke kiblat, kemudian mengangkat ‎kedua ‎tanganya dan mengucapkan “Allahu Akbar”‎.‎
  2. ‎Kemudian memegang tangan kiri dengan tangan kanan dan meletakkannya di atas dada.‎
  3. ‎Membaca do’a iftitah. Rasulullah tidak mengkhususkan satu bacaan iftitah, maka boleh ‎‎membaca salah satu dari berbagai macam do’a iftitah yang diriwayatkan dari Nabi. Salah satu ‎do’a iftitah yang diriwayatkan dari Nabi,‎ “Ya Allah, jauhkanlah aku dari segala dosa-dosaku, sebagaimana Engkau menjauhkan ‎‎antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku seperti ‎‎dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari segala dosa-dosaku ‎dengan ‎air, es dan embun” [HR Bukhari (711), Muslim (598)‎].‎
  4. ‎Membaca ta’awudz dan basmalah.‎
  5. ‎Membaca surat al Fatihah dan mengucapkan “Amiin” selesai. ‎
  6. ‎Membaca surat atau ayat al-Qur’an.
  7. Mengangkat tangan, bertakbir, kemudian rukuk. ‎Merenggangkan jari-jemari tangan dan ‎menggenggam kedua lutut serta meratakan punggung ‎dan kepala. Lalu membaca “subhaana ‎rabbiyal adzim” [HR Muslim (772)] atau yang ‎semisalnya dari bacaan-bacaan rukuk.‎
  8. ‎Bangkit dari rukuk sambil mengucapkan “sami’allahu liman hamidah” [HR Bukhari (379, ‎‎689,805), Muslim (411)] dan mengangkat ‎kedua tangan.‎
  9. ‎Jika telah berdiri tegak mengucapkan “rabbana wa lakal hamd” [HR Bukhari (379, 689,805), ‎Muslim (411)]. Dan memanjangkan I’tidal ‎‎(berdiri) ini.‎
  10. ‎Bertakbir tanpa mengangkat tangan kemudian sujud. Sujud dengan meletakkan tujuh ‎anggota ‎sujud (yaitu kening serta hidung, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung kedua ‎telapak kaki) ‎diatas permukaan bumi. Menghadapkan jari-jemari tangan dan kaki ke kiblat. ‎Menjauhkan ‎antara perut dan paha, paha dan betis saat sujud. Lalu membaca “subhaana ‎rabiyal a’la” [HR Muslim (772)] ‎atau yang semisalnya dari bacaan-bacaan sujud dan ‎memperbanyak do’a.‎
  11. ‎Bangkit dari sujud sambil bertakbir. Kemudian melentangkan telapak kaki kiri dan duduk ‎‎diatasnya serta menegakkan telapak kaki kanan –ini disebut duduk iftirasy-. Dilanjutkan ‎‎dengan membaca “rabbighfirliy warhamniy wajburniy, wahdiniy warzuqniy” [HR Abu Dawud ‎‎(850), Ibnu Majah (898). Lihat Shahih Ibnu Majah (1/148)] atau yang ‎semisalnya dari bacaan ‎duduk antara sujud.‎
  12. ‎Bertakbir dan sujud sebagaimana sujud sebelumnya.‎
  13. ‎Bangkit, mengangkat kepala sambil bertakbir sambil bertumpu pada kedua paha dan lutut.‎
  14. ‎Setelah berdiri sempurna, kemudian membaca al Fatihan dan mengerjakan sebagaimana ‎rekaat ‎pertama.‎
  15. ‎Duduk untuk tasyahud awal seperti duduk antara dua sujud. Meletakkan kedua telapak ‎tangan ‎diatas paha. Meletakkan ibu jari kanan pada jari tengah sehingga membentuk seperti ‎cincin ‎dan berisyarat dengan jari telunjuk. Lalu membaca bacaan tasyahud, salah satunya ‎‎sebagaimana riwayat Ibnu Mas’ud [HR Bukhari (6327), Muslim (402)], ‎
  16. ‎Bangkit sambil bertakbir dan mengerjakan rekaat ketiga dan keempat.
  17. ‎Duduk tasyahud ‎akhir dengan tawaruk, yaitu meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan, pantat ‎di atas lantai/alas ‎dengan menegakkan kaki kanan.‎
  18. ‎Membaca bacaan tasyahud akhir, seperti tasyahud awal ditambah shalawat atas Nabi.‎
  19. ‎Membaca do’a agar diselamatkan dari adzab jahannam, adzab kubur, fitnah kematian dan ‎‎kehidupan, dan fitnah Dajjal. Lalu membaca do’a yang diriwayatkan dari Nabi.‎
  20. ‎Terakhir, mengucapkan salam ke kanan kemudian kekiri. Bacaaanya, “Assalamu’alaikum ‎‎warahmatullah”. Memulai salam dengan posisi menghadap kiblat dan mengakhirinya pada ‎‎posisi sempurna menoleh.‎
  21. ‎Jika selesai salam membaca istighfar 3x dan membaca dzikir-dzikir yang diriwayatkan ‎dari ‎Nabi.‎

Rukun Ketiga : Zakat

Rukun Islam berikutnya adalah zakat. Di dalam al Qur’an Allah menggandengkan‏ ‏antara‏ ‏shalat‏ ‏dan zakat di 82 tempat. Diantaranya‎‏ ‏fiman ‎Allah ta’ala,‎

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku‘. (QS. Al ‎Baqarah: 43)‎

Sehingga tidak mengherankan Abu Bakar as Shiddiq berkata, “Aku benar-benar akan memerangi ‎orang-orang yang memisahkan antara shalat dan zakat” [HR Bukhari(1399),Muslim(20)].‎

Zakat disyariatkan mulai tahun kedua hijriah.Kaum muslimin pun telah ijma’ tentang kewajiban ‎untuk menunaikannya.Zakat terkandung banyak sekali faedah dan manfaat, diantaranya ‎mensucikan harta dan jiwa, mengajarkan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama manusia, ‎dan masih banyak lagi. Allah berfirman, ‎

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan ‎dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. (QS. At Taubah: 103)‎

Disebut ‘zakat’ karena dia menyucikan jiwa dan harta. Zakat tidak merugikan bagi yang ‎mengelurkannya. Rasulullah bersabda, “Tidaklah shadaqah akan mengurangi harta” [Muslim (2588) dari sahabat Abu Hurairah]. Secara ‎istilah artinya “Hak wajib pada harta tertentu, bagi golongan tertentu, dan (dikeluarkan) pada ‎waktu tertentu” [‎Mulakhos Fiqiyah (1/233)‎]‎

Syarat wajib zakat:‎

  • ‎Merdeka
  • ‎Muslim
  • ‎Memiliki nishab. Makna nishab di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syar’iat ‎‎(agama) sebagai pedoman untuk menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang ‎memilikinya, jika telah sampai pada ukuran tersebut. Akan dijelaskan lebih rinci pada setiap ‎jenis zakat.‎
  • ‎Dimiliki sempurna
  • ‎Telah lewat haulnya untuk harta. ‎ Harta yang akan dizakati telah berjalanselama satu tahun (haul) terhitung dari hari kepemilikan ‎nishab. Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat ‎pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat barang temuan (rikaz) ‎yang diambil ketika menemukannya.‎

Secara global zakat adadua : zakat mal (harta) dan zakat fithri. ‎

Zakat mal :‎

‎1.‎  Hewan ternak (Onta, Sapi ,dan Kambing)‎

Diwajibkan zakat atas onta, sapi, dankambing. Dengan syarat binatang tersebut diternakkan, ‎dan tidak digunakan untuk berkerja. Rinciannya,

  • Onta. Nishab onta adalah 5 ekor.Jika telah sampai 5 ekor zakatnya 1 kambing, dst.‎
  • Sapi. Nishab sapi adalah 30 ekor. 30-39 ekor zakatnya 1 tabi’/tabi’ah, yaitu sapi yang ‎telah sempurna umurnya setahun. 40-49 ekor zakatnya seekor musinnah, yaitu sapi betina ‎sempurna umur dua tahun. Setiap 30 ekor sapi zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ‎ekor sapi zakatnya adalah 1 ekor musinnah.‎
  • Kambing. Nishabnya 40 ekor. 40-119 ekor zakatnya seekor kambing. 120-190 ekor zakatnya ‎‎2 ekor. 201-300 zakatnya 3 ekor. Lebih dari 300 ekor, setiap 100 ekor zakatnya 1 ekor kambing.‎

‎2.‎  Hasil pertanian

Allah berfirman,‎

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil ‎usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. ‎‎(QS. al Baqarah: 267).‎

Diwajibkan zakat atas hasil pertanian seperti gandum, kurma, anggur, dan biji-bijian ‎lainnya.Nishabnya adalah 5 wasaq [‎Berdasarkan hadist riwayat Muslim dari sahabat Abu Sa’id (4/979)‎] atau sekitar 900kg. Jika dengan air hujan (tidak ‎perlu diairi) maka zakatnya 10%, jika diairi maka zakatnya 5 % [‎Berdasarkan hadist Ibnu Umar, Bukhari (1483)‎].‎

‎3.‎  Zakat Mata Uang (emas dan perak)‎

Yang dimaksud mata uang adalah emas dan perak dan yang disamakan dengannya, seperti ‎uang (yang banyak beredar sekarang ini).‎

  • Emas. Nishab emas 20 dinar, atau sekitar 85 gr emas murni (1 dinar = 4.25gr). Jika telah ‎sampai nishab atau lebih maka zakatnya 2.5 % [Berdasarkan hadist dari Ibnu Majah(1791) diriwayatkan dari Ibnu Umar dan ‘Aisyah].‎
  • Perak. Nishab perak 200 dirham, atau sekitar 595gr. Jika telah sampai nishab atau lebih ‎maka zakatnya 2.5 %.‎

‎4.‎  Barang dagangan.‎

Diwajibkan mengeluarkan zakat dari barang dagangan. Nishabnya disesuaikan dengan ‎nishab emas atau perak. Kadarnya juga sama dengan keduanya yaitu 2,5%.

Zakat fithri

Zakat fitri adalah zakat yang dikeluarkan di penghujung bulan Ramadhan. Dari Ibnu Umar, “Rasulullah ‎mewajibkan zakat fitrah satusha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum baik atas budak, orang ‎merdeka, laki-laki, perempuan, dewasa, atau anak-anak dari kalangan kaum muslimin.” [HR Bukhari (1503), Muslim (984)]

Zakat fithrah diwajibakan bagi seluruh kaum muslimin yang mampu.Untuk kadar zakatnya, yaitu satu ‎sha’ (sekitar3 kg, ada juga yang mengatakan kurang) dari makanan pokok (kurma, gandum, beras atau ‎yang semisalnya). Dikeluarkan sebelumd ilaksanakan shalat ‘Ied [Sebagaimana dalam hadist Ibnu Umar, Bukhari(1509)], dan dimulai waktu yang afdhol ‎untuk mengeluarkannya setelah terbenam matahari malam ‘Ied, dan tidak mengapa dikeluarkan ‎sehari atau beberapa hari sebelumnya [Sebagaimana yang dikatakan Nafi’, “Dahulu para sahabat mengeluarkan zakat seharI atau dua hari sebelum ‘Ied.” Diriwayatkan Bukhari (1511)].‎

Rukun Keempat : Puasa Ramadhan

Puasa ramadhan termasuk salah satu rukun Islam. Puasa ramadhan hukumnya wajib berdasar ‎dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ kaum muslimin. Allah berfirman, ‎

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas ‎orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS al Baqarah: 183)‎

Definisi puasa secara bahasa artinya menahan. Secara istilah syara’ puasa adalah ibadah kepada Allah ‎ta’ala dengan menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkannya sejak ‎terbit fajar sampai terbenam matahari [Syarhul Mumti’, 6/298‎]. ‎

Diwajibkan berpuasa jika diketahui telah masuk bulan Ramadhan baik karena melihat hilal ‎maupun menggenapkan bulan Sya’ban.

Keutamaan dan Hikmah puasa

Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa ‎yang berpuasa di bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala dari Alloh maka ‎dosanya di masa lalu pasti diampuni [HR Bukhori (1901), Muslim (760)‎].‎ Diantara hikmah disyariatkannya puasa adalah ia mensucikan dan membersihkan jiwa dari segala ‎kotoran dan dari akhlak-akhlak yang tercela. Puasa mempersempit jalan-jalan syaitan dalam tubuh ‎manusia. Dalam puasa juga terkadung zuhud terhadap dunia dan segala syahwat yang ada ‎didalamnya. Sebaliknya ia memperkuat semangat mengejar akhirat.‎

Golongan Manusia Ditinjau dari Kewajiban Puasa

  • ‎Golongan yang wajib menjalankan puasa di bulan Ramadhan: yaitu setiap muslim yang ‎sehat dan mukim kecuali wanita yang haidh dan nifas.‎
  • ‎Golongan yang diperintahakan untuk menqadha: yaitu wanita haidh, nifas, dan orang ‎yang sakit yang tidak mampu berpuasa.‎
  • ‎Boleh memilih antara puasa dan qadha: yaitu orang yang safar dan sakit yang mampu ‎untuk berpuasa.‎

Waktu Puasa

Allah berfirman, ‎

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. ‎Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (QS al Baqarah: 187)‎

Ayat yang mulia ini menjelaskan awal dan akhir waktu puasa. Dimulai waktu puasa dari terbitnya ‎fajar kedua yaitu cahaya yang membentang di ufuk dan berakhir dengan tenggelamnya matahari. ‎Sebagian manusia bersegera dalam sahur, mulai puasa satu jam atau beberapa saat sebelum terbit ‎fajar. Maka hal ini menyelisihi syariat dan berarti mereka berpuasa sebelum waktunya.‎

Hal yang perlu diperhatikan saat puasa

Diantara sunah puasa yaitu: bersahur, mensegerakan berbuka, berbuka dengan ruthab/tamar/air, berdo’a saat buka.

Hal-hal yang merusak puasa: jimak, keluar mani [Jika keluarnya ‎mani karena mimpi maka puasanya tetap sah], makan dan minum secara sengaja, mengeluarkan darah dari tubuh, muntah secara sengaja

Seorang yang berpuasa hendaknya tidak berlebihan dalam berkumur dan menghirup air kehidung ‎saat wudhu karena dikhawatirkan hal tersebut menyebabkan air masuk ke tenggorokan. ‎Rasulullah bersabda, berdalam-dalamlah dalam beistimsyak kecuali jika kalian dalam keadaan ‎puasa [‎HR Abu Dawud (142), Tirmidzi (787), Nasai (87), Ibnu Majah (407)‎]. ‎Seorang yang berpuasa hendaknya senantiasa menjaga pendengaran, penglihatan dan lisannya. ‎Hendaknya menjauhi dusta, ghibah, mencela orang lain dan lainnya dari perbuatan dan perkataan ‎keji dan kotor. Rasulullah bersabda, Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan yang kotor dan ‎berperilaku dengannya maka Allah tidak membutuhkan mereka meninggalkan makanan dan ‎minumannya [‎HR Bukhari (1903), dari hadist Abu Hurairah].‎

Mengqadha’ Puasa

Barangsiapa tidak berpuasa di bulan ramadhan karena udzur yang syar’i seperti sakit, safar, ‎haidh, nifas, menyusui atau karena yang lainnya maka diwajibkan atas mereka menggantinya ‎pada hari yang lainnya. Allah berfirman, ‎

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka ‎‎(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS al ‎Baqarah: 184)‎

Disunnakan untuk bersegera dalam mengqadha agar terlepas dari tanggungan. Tidak boleh ‎mengakhirkannya sampai masuk ramadhan berikutnya. Barangsiapa mengakhirkannya sampai ‎masuk ramadhan berikutnya tanpa alasan yang dibenarkan maka selain wajib mengadha ia juga ‎wajib membayar fidyah atasnya [‎Silahkan merujuk kitab Mulakhos fiqiyah 1/281-282 untuk pembahasan lebih ‎lanjut masalah ini].‎

Fidyah

Ada sebagian orang yang tidak mampu berpuasa di bulan ramadhan dan tidak pula mampu ‎mengqadhanya, maka bagi orang seperti ini wajib baginya fidyah, yaitu memberi makan fakir ‎miskin pada setiap hari yang ditinggalkannya. Kadarnya yaitu setengah sha’ nabawi (sekitar 1.6 ‎kg). Allah berfirman, ‎

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar ‎fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (al Baqarah: 184)‎

Termasuk golongan orang yang menjalankannya adalah orang yang sudah lanjut usia. ‎Sebagaimana perkataan ibnu Abbas dalam menafsiri ayat diatas, yaitu laki-laki atau wanita yang ‎lanjut usia, yang mana mereka tidak mampu melakukan puasa, maka mereka tiap harinya ‎memberi makan orang miskin [‎HR Buhari 4505‎]. Orang yang sakit yang kemungkinan sembuhnya kecil ‎dihukumi juga demikian, mereka cukup membayar fidyah.‎

Bagi seorang yang hamil dan menyusui yang meninggalkan puasa karena atas dirinya sendiri atau ‎khawatir atas diri sendiri serta bayi/anaknya maka cukup qadha saja. Adapun jika khawatir akan ‎bayi/anaknya saja maka wajib baginya mengqadha dan membayar fidyah [‎Pendapat ini yang dikuatkan syaikh Utsaimin, lihat penjelasan beliau panjang lebar ‎di syarhul mumti’ (6/348-350)‎]. ‎

Rukun Kelima : Haji

Hukum dari haji adalah wajib dengan kesepakatan kaum muslimin dan termasuk salah satu rukun ‎islam, dan yang wajib adalah sekali sepanjang umur bagi orang yang mampu, serta fardhu kifayah bagi ‎kaum muslimin tiap tahunnya. Diantara dalil nash dari Al Qur’an adalah firman Allah ta’ala,‎

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup ‎mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS Al Imran: 97)‎

Adapun dalil dari As Sunnah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, Islam dibangun atas ‎lima perkara: Syahadat bawasanya tida ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan Muhammad ‎adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa di bulan Ramadhan [‎HR Bukhari (8), Muslim (16) dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma‎].‎

Syarat Wajib Haji

Diwajibkan haji bagi seseorang jika telah terpenuhi lima syarat: Islam, berakal, baligh, merdeka dan ‎mampu. Yang disebut mampu adalah orang yang mampu melaksanakannya baik secara fisik maupun ‎material. Seperti mampu untuk berkendaraan, memiliki bekal yang cukup menempuh perjalannya ‎serta meninggalkan nafkah yang cukup untuk anak, istri serta siapa saja yang menjadi tanggungannya. ‎Jika mampu secara harta sedang fisiknya tidak, seperti karena tua ataupun sakit menahun maka boleh ‎diwakilkan yang lainnya [Lihat HR Bukhari (1513) dan Muslim (1334).]. Dan untuk wanita ditambah syarat wajibnya dengan adanya mahram yang ‎menemaninya untuk berhaji. Berdasar sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, Tidaklah seorang ‎wanita bersafar kecuali dengan disertai mahram, dan janganlah seorang laki-laki masuk (berkhalwat) ‎dengannya kecuali disertai mahram [HR Bukhari (1862), Muslim (1341)].‎

Keutamaan Haji ‎

Haji memiliki keutamaan yang besar dan pahala yang besar pula. Diantaranya sebagaimana dalam ‎hadist,‎‏ ‏Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali jannah [HR Tirmidzi (809) bab Haji, Nasa’I (263) bab Haji]. Aisyah radhiyallahu anha pernah ‎berkata, Kita melihat jihad adalah amalan yang paling utama, apakah kita (kaum wanita) tidak ‎berjihad? Rasulullah bersabda, Bagi kalian ada jihad yang lebih baik dan paling bagus yaitu haji ‎mabrur [HR Bukhari (1861)]. ‎

Sekian uraian singkat tentang rukun Islam, semoga bermanfaat.