6/10/2018

Jasa Seorang Ibu Untuk Kita Renungkan

alt Jasa Seorang Ibu Untuk Kita Renungkan
Sepanjang kehidupan manusia, sosok ibu memang tidak akan pernah bisa tergantikan dalam kehidupan kita sebagai seorang yang penuh kasih sayang yang memberikan segalanya tanpa balas jasa.

Bukan setumpuk Emas yang kau harapkan dalam kesuksesan ku, bukan gulungan uang yang kau minta dalam keberhasilan ku, bukan juga sebatang perunggu dalam kemenangan ku, tapi keinginan hati mu membahagiakan aku.


Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah: k-e-h-a-m-i-l-a-n. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, Tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan: p-o-s-i-t-i-f. 

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya : menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedihkah atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika itu mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna, ketika mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran.

Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar. Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak. 

Si kecil baru saja berucap "Ma?" segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. 

Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan. "Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. 

Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuk dirinya sendiri dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. 

Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak. Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Beli susu anak; 2. Uang sekolah anak. Nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.


Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. 

Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng. 

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, "sudah makan belum?" tak lupa terlontar. 

saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu, sekarang sudah menjadi orang dewasa yang bisa saja membeli makan siangnya sendiri di Sekolahnya. 

Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. 

Di saat itu, ia pun sadar, buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?" 

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian". Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih & shalihat sejak kecil," ujarnya. 

Duh IBU, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, Ibulah sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu "cinta". Sekolah yang hanya punya satu guru yaitu "pecinta". Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: "anakku tercinta".

Sahabat sirgalung, semoga selalu istiqomah dalam mengerjakan segala perintah-perintah Allah terutama sholat 5 waktu. Pentingnya sholat bagi umat muslim bisa kita jadikan motivasi untuk selalu menjaga keistiqomahan kita di jalanNya dan semoga artikel diatas dapat memberikan manfaat. Terimakasih.

Kedudukan Ibu dalam islam

alt Kedudukan Ibu dalam islam
Kemuliaan seorang ibu bahkan pernah menjadi suatu legenda yang sangat terkenal dari daerah Sumatera Barat, yang menjadi cerita menarik penuh pesan yang baik bagi anak-anak dalam menghormati orang tuannya, yang dikenal “Legenda Malim Kundang”. Dalam legenda tersebut dikisahkan ada seorang anak yang ingin sukses, kemudian merantau atau keluar dari kampung halamannya dengan meninggalkan ibunya sendirian, dan ibunya dengan berat hati, penuh tangis dan do’a akhirnya melepaskan keinginan anaknya tersbut. 

Kemudian anak yang bernama Malim tersebut meraih sukses menjadi saudagar kaya dengan istri yang cantik rupawan, dan kesuksesannya menjadikan dirinya lupa asal-muasal sebelumnya seperti apa, bahkan ketika ibunya yang mendengar anaknya yang sudah sukses, punya keinginan untuk menemuinya karena sudah lama tidak ketemu dan tidak tahu kabar beritanya, sehingga sang ibu sangat merindukannya. Ketika ia bertemu sang saudagar dengan pakaian kemegahannya yang didampingi seorang wanita cantik jelita, dengan naluri seorang ibu yang pernah melahirkannya, dan ciri-ciri yang melekat dalam tubuh sang anak, iapun yakin bahwa saudagar itu adalah anaknya yang lama telah pergi bernama Malim.

Ternyata si Malim dengan kemewahan yang dimiliki telah melupakan seorang ibu yang pakaiannya dekil dan kotor yang pernah mengandung, melahirkannya dan merawatnya sejak kecil. Malim merasa tidak pernah kenal dengan wanita itu yang sesungguhnya adalah ibu kandungnya bahkan berani mengusirnya. Keangkuhan Malim membuat sang ibu marah, dan tidak terkendali, sehingga sang ibu mengucapkan kata-kata untuk tujuannya memberi pelajaran kepada anaknya, singkat cerita; apa yang dikatakan ibu Malim Kundang didengar dan dikabulkan oleh Tuhan sehingga Malim Kundang menjadi sebongkah batu.
Di masa Rasulululloh Saw juga terdapat kisah seorang sahabat yang namanya Alqomah, beliau rajin sholat, rajin puasa dan banyak bersedekah, kemudian sakit keras yang mengalami kesusahan menjelang meninggalnya dan ketika para sahabat lainnya yang mengunjunginya dan mentalqin dengan kalimah Laa Ilaha Illallah pada saat naza’, beliau tidak bisa mengucapkannya, setelah dicari penyebabnya ternyata Ibu Al-qomah pernah marah kepadanya, karena ibunya merasa tersinggung tidak dipedulikan oleh Al-qomah, yang menurut ibunya Alqomah lebih mendahulukan istrinya daripada ibunya.

Kemudian Rasululloh Saw meminta ibunya untuk memaaafkan Al-qomah, agar kematiannya mudah, tetapi sang Ibu tidak mau memaafkan. Karena sang ibu tidak mau memaafkan anaknya, maka Rasululloh SAW mengancam akan membakar Al-Qomah untuk mempercepat kematian dan menghilangkan penderitaannya. 

Kisah ini di sebutkan dalam hadits yang sangat masyhur dan sering menjadi kisah-kisah teladan untuk mengajari anak-anak agar berbakti pada orang tuannya, namun dalam artikel Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf hafidzahullah dibahas bahwa hadits tersebut termasuk dhoif/lemah, karena terdapat perawi bernama Abul Warqo’ Fa’id bin Abdirrahman yang merupakan salah seorang yang ditinggalkan haditsnya dan seorang yang  tertuduh berdusta….. Walaupun mungkin dhoif/lemah derajat haditsnya, saya kira kisah ini tetap bisa menjadi cerita yang dapat menjadi ibroh/pelajaran bagi kita semua, sebagaimana legenda Malim Kundang, bahwa seorang seorang anak harus memuliakan orangtua, terutama Ibunya.
Terlepas dari kisah-kisah tersebut di atas, sesungguhnya Alloh SWT melalui firman-Nya dalam Al-qur’an dan Raslulloh SAW dalam haditsnya  telah memerintahkan kepada kita semua sebagai orang muslim, agar menghormati, memuliakan, mentaati perintahnya yang tidak untuk bermaksiat kepada Alloh SWT, menyayanginya sampai akhir hayatnya, dan selalu mendo’akannya ketika sudah wafat.Dalam beberapa ayat Al-qur’an dan Al-hadits lebih ditekankan lagi terhadap orang tua perempuan atau Ibu, sebagaimana dalam hadits berikut ini:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟
قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
Dari Abu Hurairah r.a, Rasululloh saw bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Pendapat Imam Al-Qurthubi dalam menjelaskan hadits tersebut adalah; “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi X : 239)
Sedangkan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah dalam kitabnya Al-Kabaair memberikan penjelasan lebih luas tentang sosok Ibu dalam hadits tersebut:
Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.
Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.
Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.
Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.
Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.
Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.
(Akan dikatakan kepadanya),
Mengapa Rasululloh SAW memerintahkan untuk menghormati seorang “Ibu” dalam tiga kali dari seorang “Ayah”? Apabila kita coba cermati secara seksama, maka akan kita temukan beberapa alasan yang mendasarinya, yang mana alasan itu juga disebutkan dalam ayat Al-qur’an maupun Al-hadits.
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)
 وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)
Kedua ayat tersebut kalau kita cermati, terdapat tiga pekerjaan yang dilakukan seorang ibu, yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang ayah, dan pekerjaan ketiganya merupakan pekerjaan yang berat. Namun demikian jika itu dilakukan dengan senang, sabar, dan dalam rangka mencari ridlo Alloh SWT, maka pekerjaan itu merupakan bagian dari jihad seorang ibu, yang pahalanya sungguh luar biasa diberikan oleh Alloh SWT.
1. Ibu “mengandung” bayi
Pekerjaan “mengandung” memang hanya diberikan oleh Alloh SWT kepada seorang wanita, makanya “rahim” sebagai tempat mengandung juga hanya dipunyai dan melekat dalam tubuh seorang wanita, yang letaknya pada bagian perut, sedangkan seorang laki-laki, walaupun sama-sama mempunyai perut, tetapi tidak diciptakan rahim di dalamnya.
Oleh karenanya, ketika sepasang suami istri ingin mempunyai anak, kemudian Alloh SWT mengabulkan dan mentakdirkannya, maka setelah terjadi pertemuan antara sel sperma yang dimiliki laki-laki dengan sel telur yang dimiliki perempuan, yang hasil pertemuan itu dinamakan “pembuahan” kemudian menghasilkan “janin”, maka secara automatically janin tersebut tersimpan dalam rahim sang istri. Di dalam rahim itulah janin akan tumbuh terus dengan mendapatkan asupan makanan dan oksigen dari ibu yang mengandungnya melalui saluran plasenta yang letaknya di dalam rahim itu juga.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)(23:12-13).
Seiring dengan perjalanan waktu dengan izin Alloh SWT janin akan tumbuh semakin besar menuju bentuk yang sempurna(bayi/manusia kecil) dengan dilengkapi berbagai perangkat yang melekat pada tubuhnya, persis seperti yang dimiliki oleh ayah dan ibunya, dan saat itu juga berat badan bayi semakin bertambah berat, maka disitulah beban yang harus dibawa seorang ibu semakin berat juga.
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Seorang ibu harus mengandung bayi tersebut dan terus membawanya kemanapun dia pergi, yang tidak mungkin dititipkan pada orang lain atau ditaruh /diletakkan di tempat tertentu untuk sementara waktu agar tidak lelah membawanya kesana kemari. Pekerjaan itu harus ibu lakukan sendiri, tidak ada orang lain atau bahkan suaminya sendiri yang bisa membantu membawa sang bayi yang ada dalam kandungannya, itu harus dia alami selama kurang labih sembilan bulan sepuluh hari,dan semakin mendekati hari kelahiran, akan semakin lemah dan bertambah kepayahan.
Sungguh luar biasa perjuangan seorang ibu yang mengandung anaknya, maka ingatlah kepada Alloh SWT dan jangan lupakan orang tua terutama ibumu
2. Ibu “melahirkan” bayi
Ketika bayi yang ada dalam kandungan sudah sempurna bentuknya, dan sudah saatnya melihat dunia luar, maka sang Ibu harus berjuang dengan taruhan nyawa untuk mengeluarkan bayi tersebut, yang proses itu disebut”melahirkan“. Proses melahirkan merupakan pekerjaan yang hanya dimiliki dan harus ditanggung oleh seorang wanita/ibu, sebagai konsekuensi dari mengandung bayi.
Prosesnya melahirkan sangat luar biasa sakitnya, terutama disaat-saat bayi membuka pintu keluar bagi dirinya sedikit-demi sedikit atau yang sering disebut “kontraksi” sampai saat bayi mendapatkan pintu yang lebar untuk keluar dengan mudah. Saat itulah sang ibu menahan dan melepas nafas, menahan sakit, bahkan ada yang sampai tidak sadar menggigit orang yang ada didekatnya hingga berdarah, karena saking sakitnya.
Maka sebagai seorang muslim/muslimah pada saat melahirkan harus banyak berdzikir, menyebut nama Alloh SWT, dan sang suami beserta keluarganya berdo’a meminta kemudahan dan keselamatan ibu dan anaknya agar bisa lahir dengan lancar.
Begitu beratnya perjuangan saat melahirkan, jika atas takdir Alloh SWT kemudian sang ibu muslim meninggal, maka termasuk dalam kategori mati syahid, Subhanalloh.
الشُّهَدَاءُ سَبْعَةٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ : الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ ، وَالْحَرِقُ شَهِيدٌ ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيد .
“Syuhada’ (orang-orang mati syahid) yang selain terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh: Korban wabah tha’un adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, penderita penyakit lambung (semacam liver) adalah syahid, mati karena penyakit perut adalah syahid, korban kebakaran adalah syahid, yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid, dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, dan al-nasai, juga Ibnu Majah. Berkata Syu’aib Al Arnauth: hadits shahih).
Walaupun pada zaman sekarang, seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, seorang wanita yang akan melahirkan tidak harus melalui jalan keluar yang normal, dengan alasan kondisi sang ibu dan bayinya atau alasan medis lainnya, mengeluarkan bayi dari kandungan sang ibu bisa melalui cara pembedahan perut, yang barang kali bisa dibilang menjadi trend melahirkan jaman sekarang, karena pada saat dilakukan operasi bedah, sang ibu akan dibius, sehingga tidak merasakan sakit, sedangkan dalam melahirkan secara normal, sang ibu tidak mungkin dibius, karena dia harus aktif untuk mendorong bayi keluar dengan tekanan pernafasannya. Tetapi bagaimanapun juga  dalam proses operasi pembedahan yang menjadi taruhan nyawa juga sang ibu. Itulah perjuangan seorang wanita/ibu dalam melahirkan bayi.
Sungguh luar biasa perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya, maka ingatlah kepada Alloh SWT dan jangan lupakan orang tua terutama ibumu.
3. Ibu”menyusui dan mengasuh ” bayi
Setalah bayi keluar dari kandungan, sang ibu juga tidak beristirahat begitu saja, tetapi dia harus menyusuinya setiap saat dan setiap waktu bayi itu kelaparan, karena pada saat umur masih dibawah 3(tiga) bulan lambung sang bayi belum begitu kuat menerima makanan, selain dalam bentuk susu, dan air susu ibu(ASI) mempunyai kandungan yang luar biasa, selain mengenyangkan juga memberi antibody bagi sang anak dari serangan penyakit. Islam memerintahkan sang ibu menyusui anak dalam waktu 2(dua) tahun, dan ketika asi itu tidak dikeluarkan, juga berpanguruh pada sang ibu, terkadang mengalami demam dan sakit.
Belum lagi kalau malam hari harus terjaga, karena bayi biasanya sering bangun malam-malam, menangis dan rewel… maka sang ibu yang masih dalam kondisi kelelahan pada saat melahirkan atau kurang tidur harus bangun menyusuinya untuk menenangkan, apabila masih tetap menangis harus menggendongnya,menghiburnya, mengayun-ayunnya sambil mata sang ibu menahan kantuk dan itupun dilakukannya dengan ikhlash dan kasih sayang…disaat yang sama terkadang sang ayah masih terlelap tidur..seolah tidak peduli.
Kalau sang bayi buang kotoran atau buang air kecil(ngompol)….…sang ibu juga akan dengan sabar membersihkannya dalam setiap saat dan setiap waktu..tanpa merasa jijik dan menyesal, tetapi dilakukan dengan senang hati.
Disaat sang ibu harus melakukan pekerjaan lain seperti memasak, menyapu, mencuci piring, harus sambil mengendong bayi yang tidak mau ditidurkan ditempat tidur.
Namun ada juga seorang ibu yang membuang bayinya karena malu atau tega menyakiti bayinya karena punya persoalan kemisikinan, bertengkar dengan suaminya, atau bahkan ada yang tega membunuhnya, tetapi perbuatan itu semua merupakan perbuatan yang diluar kenormalan manusia atau ketidakwajaran pada umumnya sebagai seorang ibu. Ada pepatah “sebuas-buas harimau tidak akan memakan anaknya”.
4. Ibu “mendidik” anak
Pendidikan usia dini sangatlah penting bagi perkembangan seorang anak, dan kedekatan seorang anak tentunya lebih kepada ibunya dibanding pada ayahnya, karena jika ibunya tidak bekerja diluar rumah, maka hampir setiap saat dan setiap waktu akan mendapatkan belaian sang ibu, sedangkan sang ayah yang mencari nafkah diluar rumah terkadang jarang bertemu. Kedekatan ibu terhadap anaknya inilah yang lebih mudah memberi pengajaran kepada anak, dan pendidikan seorang ibu kepada anaknya terbukti lebih berhasil.
Banyak peristiwa yang terjadi diamana seorang ibu yang berpisah dengan suaminya, entah karena suami meninggal atau perceraian, tetapi sang ibu tetap tegar, mandiri dan berhasil mengantarkan anak-anaknya dewasa serta meraih kesuksesan, walaupun harus merangkap sebagai kepala keluarga yang harus mencari nafkah buat diri dan anak-anaknya, yang hal itu sangat berbeda dengan seorang suami yang berpisah dengan istrinya. Makanya ada guyonan” jika istri berpisah dengan suami lebih banyak memikirkan pendidikan anak-anaknya, tetapi jika suami berpisah dengan istri lebih berfikir bagaimana dan kapan mencari pengganti ibunya anak-anak
Dengan empat alasan itulah kita harus selalu menghormati orang tua kita dan selalu mendoakannya serta memeliharanya ketika sudah berumur senja seperti mereka memelihara kita diwaktu kecil.

Sahabat sirgalung, semoga selalu istiqomah dalam mengerjakan segala perintah-perintah Allah terutama sholat 5 waktu. Pentingnya sholat bagi umat muslim bisa kita jadikan motivasi untuk selalu menjaga keistiqomahan kita di jalanNya dan semoga artikel diatas dapat memberikan manfaat. Terimakasih.

Keutamaan Orang Tua dalam Islam

alt Keutamaan Orang Tua dalam Islam
Orang tua dalam pandangan islam memiliki satu keutamaan dan juga keistimewaan tersendiri. Orang Tua bukan saja hanya memiliki kemuliaan tapi juka ia berjuang, dan Allah anggap berjuang terhadap anak dan keluarga adalah bagian dari jihad fisabilillah. Namun sering kali kita sebagai anak, kupa terhadap jasa dan perjuangan orang tua yang telah membesarkan anaknya. Untuk itu, perlu kita menyadari dan mengingat akan itu semua agar tidak menjadi anak yang durhaka.

Berikut adalah penjelasan tentang keutamaan orang tua dalam islam yang juga terdapat dalam ayat-ayat Al-Quran serta dapat kita rasakan juga sebagaimana kita seorang anak


Keutamaan Orang Tua Dilihat dari Peranan dan Jasanya
Selain dari 7 hal yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut peranan dan jasa orang tua adalah keutamaan yang tidak terhingga. Berikut adalah 8 hal yang menjadi keutamaan orang tua dalam islam terutama bagi anak-anak dan keluarganya.
Memberikan pendidikan pada anak-anaknya sehingga mereka mengenal baik dan buruk serta memahami etika dalam kehidupan
Memberikan dan mengenalkan nilai-nilai islam kepada anaknya. Peran orang tua tentang hal ini sangat besar, karena jika tidak orang tua yang berperan tentu anak tidak akan mengenal agama dan Tuhan-nya.
Memberikan nafkah dan perjuangan untuk membesarkan anak-anaknya. Tidak ada satupun orang tua yang menginginkan anaknya sengsara dan dalam keadaanyang kekurangan. Untuk itu, orang tua senantiasa meberikan yang terbaik pada anak-anaknya.
Senantiasa memberikan yang terbaik untuk anaknya, walaupun ia dalam keadaan yang terbatas atau kekurangan. Tapi orang tua selalu mendahulukan anak daripada kehidupan pribadinya.
Keutamaan orang tua juga adalah sebagai jalan masuk surga bagi anak-anaknya. Orang yang beriman akan berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya. Untuk itu, hal tersebut adalah jalan surga bagi anak-anak yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Orang tua adalah nikmat dan rezeki yang Allah berikan kepada manusia. Tanpa orang tua yang baik dan mengajarkan kebenaran, tentunya manusia pasti akan terdidik liar dan jauh dari nilai-nilai keislaman. Untuk itu, adalah nikmat yang besar dari Allah SWT.
Keutamaan orang tua adalah walaupun dia sudah tua, tetapi orang tua senantiasa mengingat dan memikirkan anaknya. Hal ini berbeda jika anak-anak yang sudah dewasa dan tua, belum tentu ia memperhatikan orang tuanya dan benar-benar memberikan kasih sayang sebagaimana orang tua melakukannya.
Keutamaan orang tua adalah, doa orang tua adalah doa yang didengar oleh Allah. Sedangkan jika durhaka pada orang tua, Allah juga akan murka kepada kita.
Ayat-Ayat Tentang Keutamaan Orang Tua

- QS Al Isra : 23

- QS Al Isra : 24

- QS An Nisa : 36

- QS Lukman : 14

- QS Lukman : 15

- QS Al Ahqaaf : 15-16

- QS Al Ahqaaf : 17


Di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat tentang keutamaan orang tua. Hal ini bisa menjadi refleksi bagi diri kita dan menjadi bagian dari penghayatan akan penting dan besarnya peranan orang tua bagi kehidupan kita pribadi apalagi dalam mengajarkan anaknya sesuai dengan Hakikat Pendidikan Islam dan Fungsinya , Ilmu Pendidikan Islam , dan Tujuan Pendidikan Menurut Islam. Tentu sunggu menyesal jika kita menyia-nyiakan cinta dan kasih sayang orang tua, apalagi bagi orang tua yang senantiasa mengajarkan kebaikan dan nilai-nilai keislaman pada anak-anaknya.

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya”
Keutamaan orang tua di ayat ini adalah orang tua dianggap istimewa langsung oleh Allah. Allah memberikan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua tanpa harus menjadikannya setara dengan Allah atau mengalahkan ketaatan kita kepada Allah. Selain itu, Allah juga menyuruh kita untuk menghargai dan bersikap baik pada orang tua walaupun telah berusia lanjut. Hal ini dikarenakan orang tua yang berusia lanjut sudah udzur, tentu sudah lemah secara fisik dan pikiran. Tidak pantas jika kita menghardiknya apalagi membentaknya, padahal orang tua tak pernah berlaku hal serupa ketika kita kecil.
“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil”
Keutamaan orang tua dihadapan Allah sangat tinggi sekali. Allah memerintahkan untuk berkata yang baik dan mulia dihadapan orang tua. Dan merendahkan diri dengan kasih sayang. Artinya sebagai anak benar-benar berbakti dan memberikan kasih sayang pada mereka. Hal ini karena orang tua juga senantiasa memberikan yang terbaik dan benar-benar menginginkan kesuksesan pada anaknya sejak anaknya masih kecil.
“Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak…..”
Keutamaan orang tua juga terdapat di ayat ini. Allah mengulangnya dari ayat yang ada sebelumnya. Untuk itu, janganlah kita menghardiknya, berbuat kasar, apalagi menyakiti hatinya. Melakukan kebaikan terhadap orang tua juga merupakan bagian dari perintah Allah dan jangan sampai kita menyekutukan Allah dengan apapun selain Dia.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali”
Orang tua terutama ibu, telah melahirkan dan juga memberikan susu untuk anaknya. Sedangkan ayah telah berusaha dan berjuang keras untuk mencari nafkah keluarga agar benar-benar dapat melaksanakan kehidupan yang layak.
Tentu perjuangan tersebut tidak mudah dan butuh kesabaran juga kekuatan yang luar biasa. Untuk itulah, Allah memberikan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua. Untuk itu, Allah memberikan perintah pada manusia agar bersyukur atas nikmat dan karunia yang Allah berikan dalam hidup ini.
“Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu kerjakan”
Allah melarang manusia untuk mengikuti perintah Allah yang dapat mempersekutukannya dan menjadikan kesesatan dalam hidup. Tetapi keutamaan orang tua adalah Allah tetap menyuruh kita agar berbuat baik di dunia walaupun orang tua mengarahkan pada mempersekutukan Allah. Tetapi, walau bagaimanapun Allah tetap menyuruh agar senantiasa mengikuti jalan yang telah ditetapkan.
”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdo’a “Ya Rabb-ku, tunjukilah aku untuk menysukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”
Dalam ayat tersebut, tersirat tentang peranan orang tua selama ini. Tentu saja ibu yang mengandung, menyusui, menyapih, dan mendidik kita  adalah bagian dari kenikmatan dan bentuk kesyukuran yang harus kita panjatkan kepada Allah SWT. Mereka yang beriman pasti akan memahami keutamaan ini bahwa dengan kenikmatan tersebut, tentunya harus menjadikan manusia semakin bertaqwa dan taat kepada Allah SWT yang telah memberikan orang tua sebagai nikmat yang tiada terhingga.
Namun, sering kali manusia lalai dan menjadikan orang tua bukan lagi sebagai nikmat, namun sebagai tujuan yang bisa mengalahkan Allah dalam kehidupan. Untuk itu, hal ini harus diwaspadai dan jangan sampai terjadi, karena kelak Allah akan melaknat dan membencinya. Tentunya kita mengingkan kehidupan yang baik di   Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam.
“Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, ‘Cis (ah)’ bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku ? lalu kedua orang tua itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, “Celaka kamu, berimanlah ! Sesungguhnya janji Allah adalah benar” Lalu dia berkata, “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”
Keutamaan orang tua ini juga terdapat dalam ayat diatas, bahwa Allah melarang untuk berbuat aksar dan berkata kasar kepada orang tua. Hal ini dapat menyakitkan bagi orang tua, sedangkan hal itu adalah hal yang tidak dibenarkan oleh Allah. Untuk itu, berkata baik dan benar apalagi terhadap orang tua adalah hal yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Sering kali mungkin kita kesal terhadap orang tua. Tetapi berkata yang baik dan tidak menyakitinya tentu adalah hal yang harus dilakukan walaupun kita kesal atau dalam kondisi apapun. Meminta maaf dan memohon doanya adalah yang harus kita lakukan.

Itulah keutamaan orang tua yang bisa kita pahami dan terapkan untuk menjadikan orang tua kita selalu bahagia.  Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. 


Sahabat sirgalung, semoga selalu istiqomah dalam mengerjakan segala perintah-perintah Allah terutama sholat 5 waktu. Pentingnya sholat bagi umat muslim bisa kita jadikan motivasi untuk selalu menjaga keistiqomahan kita di jalanNya dan semoga artikel diatas dapat memberikan manfaat. Terimakasih.